HEADER
HNW Soroti Realisasi Dana Abadi Pesantren, MPDI Dorong Keadilan Pendanaan dan Kemandirian Pesantren

KUNINGAN — Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, Lc., M.A. (HNW), menyoroti pentingnya realisasi Dana Abadi Pesantren secara adil dan proporsional. Menurutnya, keberadaan kebijakan dan dukungan anggaran bagi pesantren perlu diikuti dengan pelaksanaan yang nyata agar dapat memperkuat kualitas pendidikan pesantren di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan HNW dalam dialog kebangsaan dan pendidikan dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2026 yang diselenggarakan Majelis Pesantren Dakwah Indonesia (MPDI) di Pondok Pesantren Husnul Khatimah, Kuningan.
Dalam pemaparannya, HNW menyebutkan bahwa dari total Dana Abadi Pendidikan sebesar Rp148 triliun, alokasi yang disebut telah diberikan untuk pesantren baru Rp250 miliar. Ia menegaskan bahwa Direktorat Jenderal Pesantren perlu menjalankan peran strategis, bukan hanya dalam peningkatan kualitas dan tata kelola pesantren, tetapi juga dalam merealisasikan Dana Abadi Pesantren secara proporsional dan adil.
“Dana Abadi Pesantren” menjadi salah satu perhatian penting dalam pembahasan tersebut, mengingat pesantren merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional yang memiliki kontribusi besar dalam pembentukan karakter, penguatan keagamaan, serta pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
HNW juga mendorong MPDI dan pesantren untuk terus menyuarakan aspirasi secara konstruktif, baik melalui komunikasi langsung dengan pemangku kebijakan maupun melalui ruang publik dan media sosial. Menurutnya, kebutuhan penguatan pesantren merupakan kepentingan bersama yang dirasakan oleh berbagai daerah.
KH Abdurrahman: Dana Abadi Penting, Kemandirian Pesantren Tetap Menjadi Tradisi
Dalam kesempatan yang sama, KH Abdurrahman Abdul Hasib, M.Pd., menekankan bahwa dukungan pemerintah melalui Dana Abadi Pesantren perlu berjalan beriringan dengan penguatan kemandirian pesantren.
Ia mengapresiasi dukungan para wakil rakyat yang turut memperjuangkan kebijakan bagi pesantren. Namun, ia mengingatkan bahwa kemandirian merupakan salah satu karakter penting dalam tradisi pesantren yang harus terus dipelihara.
Menurutnya, pesantren memiliki pengalaman panjang dalam membangun kemandirian melalui kegiatan pendidikan, pertanian, kewirausahaan, koperasi, dan berbagai aktivitas produktif lainnya. Semangat tersebut perlu dikembangkan agar pesantren semakin kuat secara ekonomi dan mampu menjaga keberlanjutan pendidikan serta dakwahnya.
KH Abdurrahman juga menyoroti pentingnya menyiapkan santri agar hadir di ruang publik dan politik dengan bekal akhlak, ilmu, serta keberpihakan kepada kemaslahatan masyarakat. Santri diharapkan tidak hanya menjadi pemimpin di lingkungan pesantren, tetapi juga berkontribusi sebagai tokoh masyarakat, negarawan, dan pemimpin bangsa.
KH Ayi Abdul Rosyid: FOSDI Menjadi Wadah Penguatan Kepemimpinan Santri
Ketua Umum MPDI, KH Ayi Abdul Rosyid, Lc., M.A., dalam sambutannya menjelaskan pentingnya menyediakan ruang bagi para santri untuk memperluas wawasan dan pengalaman organisasi.
Melalui Forum Organisasi Santri Dai Indonesia (FOSDI), MPDI berupaya memberikan wadah bagi para pengurus organisasi santri untuk berkembang melampaui lingkungan pesantren masing-masing. FOSDI diharapkan menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan yang menjangkau tingkat nasional, bahkan internasional.
Dengan ruang gerak yang lebih luas, para santri diharapkan mampu menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat serta mempersiapkan diri menjadi pemimpin umat, bangsa, dan kemanusiaan pada masa mendatang.
Penguatan organisasi santri ini juga sejalan dengan kebutuhan pesantren untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu dan akhlak, tetapi juga kecakapan berorganisasi, kepemimpinan, dan kemampuan menjawab tantangan zaman.
Pendanaan yang Adil dan Kemandirian Harus Berjalan Beriringan
Pandangan ketiga tokoh tersebut memperlihatkan bahwa penguatan pesantren memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Di satu sisi, dukungan negara melalui Dana Abadi Pesantren perlu direalisasikan secara adil dan proporsional. Di sisi lain, pesantren tetap perlu mengembangkan kemandirian ekonomi, memperkuat kualitas pendidikan, dan menyiapkan santri agar mampu mengambil peran strategis dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
MPDI memandang bahwa pesantren bukan semata-mata lembaga pendidikan keagamaan, melainkan juga kekuatan sosial yang berkontribusi dalam membangun karakter, menjaga nilai-nilai kebangsaan, dan menyiapkan kepemimpinan masa depan Indonesia.
Melalui momentum Hari Santri Nasional 2026, MPDI berharap perhatian terhadap pesantren semakin diwujudkan dalam kebijakan yang berdampak nyata. Dana Abadi Pesantren diharapkan tidak berhenti sebagai komitmen kebijakan, tetapi benar-benar mendukung pemerataan kesempatan, peningkatan mutu, dan keberlanjutan pesantren di seluruh Indonesia.
Majelis Pesantren Dakwah Indonesia (MPDI)
Dari pesantren untuk negeri, bergerak bersama, berdampak nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *