Bekasi, 29 April 2026 – Majelis Pesantren Dakwah Indonesia (MPDI) menggelar Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Sistem Pembinaan Pesantren” pada Rabu, 29 April 2026, pukul 08.00–12.00 WIB. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang Thariq Bin Ziyad Boarding School, Bekasi, ini bertujuan merumuskan panduan operasional sistem pembinaan pesantren yang utuh, terukur, dan aplikatif.
FGD ini dilatarbelakangi oleh urgensi penyusunan kerangka pembinaan yang komprehensif di lingkungan pesantren. Pesantren memiliki peran sangat strategis dalam menyiapkan generasi bangsa sekaligus calon pemimpin masa depan. Karena itu, sistem pembinaan tidak boleh berhenti pada aspek kognitif dan keterampilan, tetapi harus menguatkan fondasi moral dan karakter. Pembinaan moral dipandang sebagai kebutuhan mendesak agar para santri yang kelak menjadi pemimpin mampu menunaikan tugas dan amanah dengan integritas, keadilan, dan tanggung jawab.
Ketua MPDI, Kyai Abdur Rasyid, dalam sambutannya menegaskan bahwa pesantren adalah kawah candradimuka kepemimpinan umat. “Kalau kita ingin Indonesia punya pemimpin yang jujur, amanah, dan berpihak pada rakyat, maka pembinaan moral di pesantren harus didesain serius. Tidak bisa parsial. Harus ada standar, tahapan, dan evaluasi yang jelas,” ujarnya.
FGD menghadirkan jajaran pimpinan MPDI, antara lain Wakil Ketua MPDI Kyai Nurul Ain dan Kyai Lalu Agus Pujiarta. Tuan rumah, Pimpinan Thariq Bin Ziyad Boarding School, Kyai Adih Amin, menyambut baik inisiatif ini dan menyatakan kesiapan lembaganya menjadi salah satu model implementasi. “Kami butuh panduan yang membumi. Yang bisa dipakai harian oleh musyrif, wali kelas, sampai pengasuh,” kata Kyai Adih.
Hadir pula Ketua Dewan Pakar MPDI, Uril Bahruddin dari Pondok Pesantren Daarul Ukhuwah Malang, yang memberikan kerangka akademik FGD. Menurutnya, sistem pembinaan pesantren perlu mengintegrasikan tiga pilar: ta’dib atau penanaman adab, ta’lim atau transfer ilmu, dan tazkiyah atau penyucian jiwa. “Tanpa adab, ilmu bisa jadi alat menindas. Tanpa tazkiyah, pemimpin mudah tergelincir syahwat kekuasaan,” tegasnya.
Diskusi berjalan dinamis selama empat jam. Peserta FGD mengidentifikasi beberapa masalah pokok: belum adanya standar kompetensi lulusan pesantren di bidang karakter, variasi metode pembinaan antarpesantren yang terlalu lebar, serta minimnya instrumen evaluasi pembinaan moral yang objektif. Dari situ, forum menyepakati perlunya dokumen “Panduan Operasional Sistem Pembinaan Pesantren MPDI” yang memuat peta jalan pembinaan 6 tahun, modul pembinaan musyrif, indikator akhlak santri, dan sistem monitoring berbasis digital.
MPDI berharap panduan ini menjadi rujukan nasional bagi pesantren dalam melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan siap memikul amanah kepemimpinan. “Pesantren harus terdepan mencetak negarawan, bukan sekadar sarjana,” tutup Kyai Abdur Rasyid.
Narahubung Media:
Humas MPDI
